
Sobat Banua Emas, pernah lihat di media sosial ada orang cerita beli emas puluhan tahun lalu, lalu dijual sekarang dengan keuntungan fantastis? Bahkan ada yang sampai puluhan hingga ratusan juta rupiah! Kedengarannya menggiurkan banget, ya. Tapi… pernah kepikiran nggak? Itu benar-benar untung besar atau sebenarnya cuma efek dari inflasi? Yuk kita bahas lebih lanjut apakah investasi emas itu untung atau cuma inflasi.
Harga Beli vs Harga Buyback
Harga emas terbagi menjadi 2 yaitu harga emas saat membeli dan harga emas saat menjual, atau kita sebut harga buyback . Kedua harga ini tidak akan sama. Harga buyback akan lebih murah dibandingkan dengan harga pada saat kita membeli.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Karena harga pada saat membeli mengacu pada biaya-biaya lain seperti margin dari toko yang menjual, biaya cetak, biaya operasional, biaya distribusi, dll. Hal ini disebut juga spread.
Mengapa harga buyback lebih murah?
Karena toko yang membeli akan menanggung biaya operasional dan fluktuasi sebelum emas dijual.
Harga Emas Terus Naik
Kita lihat harga emas mulai dari tahun 2000 sampai sekarang dihitung per 5 tahun:
- Tahun 2000 : Rp 70.000- Rp 85.000 per gram
- Tahun 2005 : Rp 150.000 per gram
- Tahun 2010 : Rp 350.000 per gram
- Tahun 2015 : Rp 600.000 per gram
- Tahun 2020 : Rp 900.000 – Rp 1.000.000 per gram
- Tahun 2026 : Rp 2.800.000 per gram
Penyebab kenaikan harga ini adalah krisis global atau kebijakan pemerintah. Terutama saat terjadinya pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Bisa lihat di data, harga emas naik menjulang tinggi karena pada saat itu masyarakat perlu mengamankan aset mereka di tengah kelumpuhan ekonomi akibat keterbatasan aktivitas sehingga permintaan menjadi naik.
Dilihat dari kenaikan emas dari tahun ke tahun, tidak heran jika melihat orang-orang yang sudah membeli pada tahun 2000 lalu menjual pada saat ini mendapatkan harga buyback yang sangat fantastis, karena harga beli pada saat itu sangat jauh berbeda.
Tapi… apakah nominal perbedaan tersebut untung atau inflasi?
Inflasi merupakan fenomena kenaikan harga barang dan jasa di semua jenis komoditas secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu yang mengakibatkan penurunan daya beli uang atau melemahnya nilai mata uang. Hal ini disebabkan oleh jumlah permintaan yang tinggi dibandingkan penawaran.
Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), per Januari 2026, inflasi di Indonesia sebesar 3,55%. Persentase ini menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan persentase di akhir tahun 2023, yaitu 2,61%.
Untuk melihat keuntungan investasi emas, jangan hanya dilihat dari selisih kenaikannya saja, karena inflasi ini bisa memengaruhi nilai nyata atau nilai riil keuntungan. Lalu gimana supaya kita nggak salah paham dalam melihat spread keuntungan? Caranya adalah dengan dihitung. Berikut contohnya.
Studi Kasus: Investasi Emas Untung atau Inflasi?
Ibu Frida membeli emas 50 gram pada tahun 2000 dan akan menjualnya pada tahun 2026.
Harga Beli:
@50gram x Rp85.000 = Rp4.250.000
Harga Jual Buyback di Banua Emas Tgl 31 Maret:
@50gram x Rp2.627.000 = Rp131.350.000
Keuntungan nominal
Untung = (Harga Jual per Gram – Harga Beli per Gram) x Jumlah Gram
= (Rp2.627.000 – Rp85.000) x 50gram
= (Rp2.542.000 x 50gram)
= Rp127.100.000
Persentase Keuntungan
%Keuntungan = Harga sekarang- Harga Beli/Harga Beli x 100%
=Rp2.627.000 – Rp85.000/Rp85.000 x 100%
= 29,9%
Keuntungan dengan Inflasi (Riil)
Keuntungan Riil = %Kenaikan Emas – %Inflasi
= 1.075% – 200%
=875%
Jika dihitung dari keuntungan nominal dan mengacu pada keuntungan riil, Ibu Frida hanya mendapatkan Rp11.121.250 dari keseluruhan laba Rp127.100.000.
Dengan demikian, bisa disimpulkan dari perhitungan tersebut bahwa jika masa simpan emas 26 tahun dengan total 50 gram, maka secara nominal mendapatkan keuntungan. Akan tetapi, hal tersebut bukan secara riil karena mengacu pada inflasi. Oleh karena itu, investasi emas mendapatkan keuntungan, tetapi tetap terjadi inflasi pada keuntungan emas tersebut.
Bisa diartikan bahwa emas itu penjaga aset yang nilainya cenderung stabil atau naik saat terjadi krisis ekonomi. Karenanya, emas banyak dijadikan pelindung aset yang aman untuk melindungi nilai, bukan untuk meningkatkan nilai. Sebenarnya, emas yang dibeli di masa lampau dan dijual di masa sekarang nilainya sama saja, namun karena inflasi, keuntungannya jadi terasa sangat besar.
Kesimpulan: Emas = Penjaga Nilai, Bukan Mesin Profit Instan
Dari pembahasan di atas, bisa kita simpulkan:
- Harga emas memang naik dari tahun ke tahun
- Keuntungan besar sering terlihat karena efek waktu panjang
- Inflasi mengurangi nilai “keuntungan sebenarnya”
- Emas lebih cocok untuk menjaga nilai aset, bukan sekadar mencari profit cepat
Kalau Sobat Banua Emas ingin mulai investasi emas dengan aman dan terpercaya, langsung saja cek produk terbaik di banuaemas.com 💛
Siap mulai investasi yang lebih cerdas?
